Selasa, 30 Desember 2008

Rincian

Umur 0 - 5 thn .... masih polos
Umur 5 - 10 thn .... dah mulai suka baca komik (tintin, asterix)
Umur 10 - 15 thn .... mulai jadi metal mania
Umur 15 - 20 thn .... belajar jadi budak leuweung
Umur 20 - 30 thn .... belajar mengembara
Umur 30 - sekarang .. membesarkan anak

Minggu 28 Dec 2008

Hari minggu kemarin (28-Dec-08), "kakang" EQ manggung lagi. "Seru, Yah!" katanya penuh antusias, saat ditelepon. Kebetulan, Bunda ngerekam dan tinggal di edit saja. "Tunggu ayah cuti", katanya. Biasa, tugas tambahan buat ngisi waktu field break nanti.

Gak nyangka juga, putra sulungku ini semakin lama semakin bersemangat dalam bermain musik. Dan yang lebih membahagiakan lagi, kami berdua satu selera dalam hal jenis musik.

Ya, kami berdua suka jenis musik heavy metal. Musik yang energik, menurut ku. Hentakan2nya membakar semangat. Apalagi saat berada dilapangan. Rasa letih dan lelah seringkali hilang,saat mendengar Bruce Dickinson (Iron Maiden), Kevin DuBrow (Quiet Riot) atau Dee Snider (Twisted Sister) teriak2 namun tetap berirama.
Menurut sebagian orang, musik seperti itu identik dengan alkohol, narkoba dan kekerasan. Siapa bilang?! Ga selalu musik2 keras seperti itu identik dengan barang haram seperti itu.

Menurut ku, memainkan musik2 keras seperti itu perlu energi dan stamina yang baik. Jari2 harus lincah saat memainkan grip2 cepat. Pukulan penuh tenaga diperlukan saat menabuh drum.
Kalo lagi teler, mana mungkin bisa?

Memang ada oknum2 yang seperti itu. Tapi bukan hanya heavy metal saja kan?
Banyak kaum terhormat yang juga terlibat dengan barang2 haram seperti itu. Kalo kita lihat di tv, ada beberapa oknum politisi, aparat bahkan pengusaha yang ternyata juga pengguna barang2 haram itu.

Kepada EQ, aku selalu ingatkan. Bermusiklah dengan sepenuh hati. Karena musik dapat menjadi sarana luapan emosi jiwa.
Bermusik tidak hanya memainkan alat musik ataupun bernyanyi. Tapi juga bermain dengan hati. Hati kita ikut menikmati alunan lagu dan irama yang dimainkan. Dengan begitu, insya Allah, kita bisa lebih enjoy lagi dalam menghadapi setiap masalah.
Ingat waktu jaman sekolah di jakarta dan bandung. Suka ngiri kalo ngeliat ada kawan yang bisa main musik. Satu2nya alat musik yang bisa dimainkan cuma kentongan pos ronda sama bedug di masjid.

Akhirnya ambil kesimpulan, musik ga cuma untuk dimainkan saja. Tapi lebih tepat untuk dinikmati, entah itu dimainkan atau cuma mendengarkan saja.
Pernah mencoba untuk mendengarkan jenis musik yang berbeda dengan yang biasa didengar. Heran, susah sekali masuk. Selalu ga bisa terima telinga ini. Ditelinga saja sudah susah, apalagi dihati?
Mungkin gara2 pertama kali coba dengar musik, langsung dikasih lagu "2 minutes to midnight"-nya Iron Maiden sama kawan. Waktu itu terasa pas dihati. Dan akhirnya kebablasan jadi pendengar setia musik cadas.

Bunda sempat sering protes, setiap nyetel musik di rumah. Brisik, katanya. Tapi sekarang, istriku sudah ga bisa protes lagi.
Tau sendiri kalo EQ sudah memutar musik. Bunda protes, maju terus pantang mundur. Tetap aja volume susah dikecilkan. Apalagi kalo sudah memutar lagu "Sweet Child O Mine"-nya GNR. Lagu favoritnya.
Sambil genjrang-grenjreng memainkan gitar, ikutan bernyanyi. Lumayan merdu juga suara jagoanku ini.

Akhirnya, keinginan untuk bisa bermain musik heavy metal dapat terwujud, lewat putra tercintaku ini. Alhamdulillah...
Keep rockin', my son!
Say NO to Drugs and Alcohol