The Weapon that will win the war……
Periode sulit terus dijalani. Berbekal keyakinan
bahwa tujuan akhir sudah dekat. Namun, jalan berliku, tanjakan dan turunan yang
cukup terjal, batu-batu tajam, masih tampak didepan mata. Pada jalan yang harus
dilalui.
Sadar bahwa diri ini telah terbuang. Mengutip
ucapan mereka, membuang diri. Biarlah. Biar aja semua berpendapat. Semua
berhak. Karunia Ilahi, membuat setiap manusia memiliki hak hidup yang sama.
Tapi apakah semuanya berpikiran sama? Even terhadap
saudara sendiri. Belum tentu. Belum tentu, mereka mempunyai pemikiran yang
sama. Walau lahir dari rahim yang sama. Belum tentu juga. Maka, biarlah. Apapun
itu, jalani aja.
Cacian, makian, hinaan, pandangan sebelah mata.
Anggap aja sebagai bumbu dapur yang akan membuat masakan menjadi lebih lezat.
Tinggal bagaimana menjadi koki yang hebat, yang mampu mengolah semua itu
menjadi hidangan kelas bintang 5.
Orang salah itu wajar. Dan wajar jika orang salah
itu memiliki kesempatan untuk memperbaiki dirinya. Yang tidak wajar itu, tetap
menganggap salah dan tidak memberikan apa yang menjadi haknya. Membuangnya,
menjauhkan dirinya dari segala sesuatu yang dapat menguntungkannya.
Rasa angkuh, ego yang menutup hati nurani. Suatu
saat nanti akan menjadi bara api yang akan membakar. Hingga akhirnya seluruh
tubuhnya akan terbakar. Dan tinggalah abu yang tersisa.
Senjata terdahsyat dimuka bumi ini bukanlah pedang
yang paling tajam. Bukan pula pesawat tempur yang canggih. Termasuk bom hydrogen.
Bukan. Senjata terdahsyat yang mampu memenangkan sebuah peperangan adalah….
HATI NURANI.
Hati nurani yang lembut, tulus dan ikhlas insya
Allah dapat meredam api kemarahan. Meredam api kemarahan yang telah menyulut
peperangan. Ibarat air pegunungan yang sejuk. Menyegarkan kerongkongan yang
kering. Menghilangkan dahaga.
Hati nurani, yang memunculkan kelembutan. Seperti
halnya kelembutan seorang ibu. Hal sudah lama hilang. Hilang dalam kehidupan
sehari-hari. Meski kini telah ada pengganti. Namun tetap, sosok seorang ibu
yang melahirkan kita tak akan pernah dapat tergantikan. Oleh siapapun.
Kelembutan seorang ibu, insya Allah dapat
menyejukkan hati. Menghilangkan amarah, murka dan segala emosi yang menutup
mata hati.
Memang mata hati sempat tertutup. Ya, itu sebuah
kesalahan terbesar. Yang tidak boleh terulang lagi. Yang telah menyebabkan
terjadinya perpecahan dalam satu keuarga. Satu keluarga yang memiliki darah
daging yang sama.
Iya, itulah Fatal Error. Kesalahan terbesar dan
terberat.
Hati nuranilah yang dapat memperbaikinya. Hati
nuranilah yang dapat memulihkannya. Dengan hati nurani, kelembutan akan muncul.
Menguraikan satu per satu permasalahan dan merajutnya kembali menjadi sebuah
kain yang indah.
Dan saat itulah, pintu gerbang kemenangan sebuah
peperangan telah terbuka. The winning gate has opened. The war will end. Unity
will rise in peace with Blessing from Allah SWT.
