Kamis, 02 Agustus 2012

Kamis, 2 Agustus 2012

Renungan Kamis, 2 Augustus 2012 Coba melacak kembali, apa sebenarnya yang tengah terjadi. Setiap hari, selalu muncul permasalahan baru, sementara yang ada belum sepenuhnya teratasi. 

Tekanan demi tekanan terus bermunculan. Sementara angan dan harapan seolah semakin menjauh. Menjauh dan terus menjauh. Seolah menjadi kosong belaka. Sementara roda kehidupan dengan segala macam hal yang ditimbulkannya terus bergulir seolah tanpa henti. 

Saat orang-orang disekitar kita yang diharapkan dapat memberikan dukungan, yang terjadi malah sebaliknya. Semakin menambah beban. Sementara kita merasa kesulitan untuk mengungkapkannya. Khawatir akan menambah beban baru. 

Pergi dan meninggalkan begitu saja? Tidak! Itu bukan solusi. Tapi malah membuat keadaan bertambah rumit. 

Tapi sesaat rehat, sejenak untuk sekedar meringankan beban bukanlah hal yang tabu untuk dilakukan. Diam dan menarik nafas panjang sambil menyadari bahwa itu semua adalah kenyataan hidup yang harus dihadapi. Takdir memang tidak dapat dirubah. Tapi nasib masih bisa. Sekarang bagaimana menghadapi orang-orang terdekat yang seharusnya memberikan dukungan moril tetapi yang terjadi malah sebaliknya? 

Istri adalah orang yang terdekat dalam kehidupan kita, para suami. Tapi terkadang justru memberikan beban yang teramat berat. Maksud hati adalah ingin memberikan yang terbaik. Tapi langkah untuk mewujudkannya tidak jarang malah mendapat tantangan justru dari mereka. 

Hari ini, 2 Agustus 2012, mendapatkan berita dari rumah. Perihal kebutuhan rumah tangga. Seharusnya hal tersebut dapat diatasi seandainya terdapat manajemen yang lebih baik. Bukan saling melempar. Tapi, untuk memberikan kritik atau saran sepertinya tabu untuk dilakukan. Titik permasalahannya, pakah mau menerima kritik dan saran tersebut? Selama ini yang terjadi malah membuat konflik baru. Muncul karena tidak pernah mau berpikir dalam sudut pandang yang berbeda. Selalu menganggap sudut pandangnya adalah yang terbaik. 

Merubah pemahaman seperti ini sulit. Terlebih adanya sifat keras kepala. Tidak mau mengalah. Tapi apakah api harus dibalas dengan api? Tidak, api harus dihadapi dengan air. Panas diatasi dengan dingin. Timbul pertanyaan, apakah selamanya harus terus menjadi air? Semutpun akan menggigit jika terinjak kaki. Shock therapy memang perlu. Tapi yang seperti apa? Dan apakah hasilnya akan sesuai yang diharapkan dan bukan sebaliknya? Tapi layak memang untuk dicoba. 

Mengajaknya untuk melihat setiap permasalahan dari berbagai sudut pandang. Ide bagus. Memperlihatkan sisi lain dari kehidupan dari sisi yang berbeda. Meyakinkan bahwa apa yang sedang kita lakukan adalah yang terbaik yang sementara dapat dilakukan. Berusaha dan terus berusaha, tanpa kenal kata menyerah. 

Tidak perlu mencari alibi atau pembenaran lain. Kalo memang merasa tidak mampu, akui. Jujur saja. Semua ini sudah digariskan. Jujur? Hal yang terkadang sulit dilakukan. Tapi agama menggaris-bawahi perihal kejujuran ini. Dan suka atau tidak suka, berat atau tidak, harus tetap dilaksanakan. Katakanlah dengan jujur, apa yang tengah terjadi walau itu pahit. 

Hidup adalah perjuangan. Sejak kita keluar dari rahim ibu. Bahkan saat ibu mengeluarkan kita dari rahimnya adalah perjuangan antara hidup dan mati baginya. Nafas pertama yang kita hirup adalah nafas perjuangan. Perjuangan untuk bertahan hidup. Perjuangan yang hanya akan berhenti jika nafas ini sudah berhenti pula. Mengutip pepatah lama bangsa Jerman, “Ein leben ist nicht ein spiel, aber leben ist ein streit”. Hidup ini bukanlah sandiwara, tapi hidup ini adalah perjuangan. 

Berhasil atau tidak, itu urusan Allah SWT. Yang penting, semua usaha yang dilakukan adalah yang terbaik. Pasrahkan saja mengenai hasilnya. Yakin bahwa itu yang terbaik. 

Keinginan untuk memberikan yang terbaik sering disalah-artikan. Sering dianggap berseberangan. Mungkin akibat kurangnya komunikasi. Padahal, semua ini bertujuan untuk kebaikan. Baik untuk semua. Komunikasi? Untuk memulai berbicarapun terasa sulit. Seolah sudah dicegat terlebih dahulu, dan tidak boleh maju. Mungkin ini adalah karakter. Tapi tidak ada salahnya untuk terus mencoba. Ya, terus mencoba. Karena tujuan akhir tadi. Untuk kebaikan. 

Apakah masih sejalan? Masih, yakin 100%. Tapi mungkin dalam pasang rel yang berbeda. Meski tujuan dan kereta yang sama, tapi roda kiri tidak mungkin dapat berada di rel sebelah kanan. Tetap berada di posisi masing-masing dan berjalan beriringan bersama. Sama-sama menopang beban gerbong yang dipikul menuju stasiun tujuan.

Tidak ada komentar: