Selasa, 23 April 2013



The Weapon that will win the war……

Periode sulit terus dijalani. Berbekal keyakinan bahwa tujuan akhir sudah dekat. Namun, jalan berliku, tanjakan dan turunan yang cukup terjal, batu-batu tajam, masih tampak didepan mata. Pada jalan yang harus dilalui.

Sadar bahwa diri ini telah terbuang. Mengutip ucapan mereka, membuang diri. Biarlah. Biar aja semua berpendapat. Semua berhak. Karunia Ilahi, membuat setiap manusia memiliki hak hidup yang sama.

Tapi apakah semuanya berpikiran sama? Even terhadap saudara sendiri. Belum tentu. Belum tentu, mereka mempunyai pemikiran yang sama. Walau lahir dari rahim yang sama. Belum tentu juga. Maka, biarlah. Apapun itu, jalani aja.

Cacian, makian, hinaan, pandangan sebelah mata. Anggap aja sebagai bumbu dapur yang akan membuat masakan menjadi lebih lezat. Tinggal bagaimana menjadi koki yang hebat, yang mampu mengolah semua itu menjadi hidangan kelas bintang 5.

Orang salah itu wajar. Dan wajar jika orang salah itu memiliki kesempatan untuk memperbaiki dirinya. Yang tidak wajar itu, tetap menganggap salah dan tidak memberikan apa yang menjadi haknya. Membuangnya, menjauhkan dirinya dari segala sesuatu yang dapat menguntungkannya.

Rasa angkuh, ego yang menutup hati nurani. Suatu saat nanti akan menjadi bara api yang akan membakar. Hingga akhirnya seluruh tubuhnya akan terbakar. Dan tinggalah abu yang tersisa.

Senjata terdahsyat dimuka bumi ini bukanlah pedang yang paling tajam. Bukan pula pesawat tempur yang canggih. Termasuk bom hydrogen. Bukan. Senjata terdahsyat yang mampu memenangkan sebuah peperangan adalah…. HATI NURANI.

Hati nurani yang lembut, tulus dan ikhlas insya Allah dapat meredam api kemarahan. Meredam api kemarahan yang telah menyulut peperangan. Ibarat air pegunungan yang sejuk. Menyegarkan kerongkongan yang kering. Menghilangkan dahaga.

Hati nurani, yang memunculkan kelembutan. Seperti halnya kelembutan seorang ibu. Hal sudah lama hilang. Hilang dalam kehidupan sehari-hari. Meski kini telah ada pengganti. Namun tetap, sosok seorang ibu yang melahirkan kita tak akan pernah dapat tergantikan. Oleh siapapun.
Kelembutan seorang ibu, insya Allah dapat menyejukkan hati. Menghilangkan amarah, murka dan segala emosi yang menutup mata hati.

Memang mata hati sempat tertutup. Ya, itu sebuah kesalahan terbesar. Yang tidak boleh terulang lagi. Yang telah menyebabkan terjadinya perpecahan dalam satu keuarga. Satu keluarga yang memiliki darah daging yang sama.
Iya, itulah Fatal Error. Kesalahan terbesar dan terberat.

Hati nuranilah yang dapat memperbaikinya. Hati nuranilah yang dapat memulihkannya. Dengan hati nurani, kelembutan akan muncul. Menguraikan satu per satu permasalahan dan merajutnya kembali menjadi sebuah kain yang indah.

Dan saat itulah, pintu gerbang kemenangan sebuah peperangan telah terbuka. The winning gate has opened. The war will end. Unity will rise in peace with Blessing from Allah SWT.

Tidak ada komentar: