Flying Camp, Veld bed, Hammock, Secangkir Kopi
Hitam dan Field Book
Green Day, Welcome to paradise. Seolah seirama
dengan riak air yang muncul disekeliling perahu klotok
Musik Punk memang tidak sekeras suara mesin Dong
Feng yang menggerakkan klotok ini. Sama sekali tidak merdu. But it will pay to
become a winner.
Berkarung-karung jatah logistic sudah dinaikkan.
Sebuah Hiline tua berwarna biru, akan membawa naik menuju pedalaman. Rimba
Borneo.
Ini bukan sekedar ekspedisi. Tetapi lebih kepada
bertahan hidup. Tidak hanya dihutan. Tetapi juga untuk keluarga di rumah.
Pacet mungkin akan menjadi sahabat perjalanan
nanti. Semoga hujan akan menyapu kegersangan musim kemarau panjang ini.
Suara gaduh terdengar, sementara mata masih bisa
berkompromi. Tripod, prisma, Pole Stick sudah rapih terbungkus. Siap untuk
dibawa berjalan. Tidak jauh. Hanya 15km saja. Menembus rimba borneo yang sudah
tersohor itu.
Secangkir kopi yang rasanya lebih mirip kuah kolak
menjadi teman sarapan pagi ini. Rasanya cukup berat untuk membasuh seluruh badan.
Bahkan untuk membasuh muka sekalipun.
Karena hati kecil ini masih terpaku, nun jauh
diselatan sana. 7°19’39”.1 LS , 108°12’13”.1 BT. My home sweet home. Istana
kecil, yang selalu ramai dengan suara-suara malaikat kecilku.
Matahari semakin meninggi. Kegiatan harus segera
dimulai. Demi sebuah target? Bukan. Demi sebuah tiket pulang dan kicauan merdu
sms banking di akhir bulan.
Entah sudah berapa banyak ayam yang mejadi korban
kebuasan nafsu makan. Ditakdirkan untuk dijadikan pengganjal perut. Hmmm,
mantap. Seperti sebuah motor trail yang over load.
Sepatu boot karet merk AP ukuran 43. Lumayan besar
dan sulit diperoleh di kota kecil, Muara Teweh. Hanya dengan keuletan dan
kesabaran serta ketabahan, sepatu itu akhirnya berada pada tempat yang
seharusnya.
Terpal biru, menjadi atap. Semoga memberikan
kenyamanan dan keteduhan, hingga waktunya tiba. Bau harum bawang putih goreng menjadi
pewangi ruangan.
Teknologi maju. Hanya sejenak, guratan-guratan
garis kontur mulai terbentuk. DTM dan lain sebagainya.
Pikiran tetap menerawang pada posisi 7°19’39”.1 LS ,
108°12’13”.1 BT. Terserah apa kata orang. Badan yang merindukan bilasan air,
sesekali disinggahi nyamuk. Tak peduli. Hirup sedikit demi sedikit, kopi rasa
kolak.
Kabut asap, 2006. Hari-hari terakhir ramadhan.
Sesak nafas, badan gatal dan mata perih. Tidak peduli. Tujuan akhir adalah
syamsudin noor. Sebuah nama yang selalu dirindukan apabila berada ditempat
seperti ini.
Beberapa saat lagi, tinggal landas. Selamat tinggal Borneo. I’ll see you in couple of weeks.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar