Selasa, 23 April 2013



It’s almost midnight, but still hard to close my eyes.

Masih susah memejamkan mata. Masih terngiang, pertengkaran yang barusan terjadi. Perbedaan prinsip yang ternyata begitu besar dampaknya. Hampir saja keutuhan satu keluarga terpecah, oleh ego dan emosi

Mengalah untuk menang. Yah, seperti itulah yang dilakukan. Terserah mereka akan menganggap seperti apa. Tapi, lebih dahulu meminta maaf, adalah kunci awal dari sebuah kemenangan besar dalam satu peperangan. Bukan kemenangan kecil dalam satu pertempuran. Win the war, not the battle.

Berawal dari ketidaksepakatan, justru mengarah kepada perpecahan. Sungguh sangat disayangkan. Meski berjalan dalam satu rel, tapi berbeda dalam posisi.
Satu pihak berada pada rel sebelah kiri, dan pihak lain berada pada rel kanan. Meski satu kesatuan, tapi tetap tidak akan dapat bertemu. Harus kita sadari, itulah yang ada. Itulah fakta.

Sangat disayangkan, bersaudara kandung kemudian terpecah hanya karena ego dan emosi sesaat. Tapi, semua ini sesungguhnya memiliki tujuan yang sama. Demi kebahagiaan yang kita cintai.

Banyak hal yang harus dipertimbangkan, difikirkan dan direnungkan. Keputusan yang terbaik tidak diambil secara instant. Pertimbangan matang dan bukan untuk kepentingan sesaat.

Perpecahan adalah hal yang tabu. Harus dihindari. Tali silaturrahmi harus tetap terjaga. Meski sakit, akan manis pada akhirnya.
Biarlah mereka menilai kita buruk. Tapi kita tidak boleh. Jangan sekali-sekali. Jika itu dilakukan, maka tidak ada bedanya. Justru kita harus berbeda. Karena itu adalah kunci. Ya, kunci dari hasil akhir gemilang yang akan kita raih.

Andara BPLK No.41. 23 tahun yang lalu, dengan langkah penuh keyakinan mulai ditinggalkan. Mulai mengarungi kehidupan luar yang sangat keras. Menempa diri untuk menjadi yang terbaik. Kegagalan hanyalah keberhasilan yang tertunda. Namun keyakinan untuk memenangkan sebuah pertempuran adalah tekad kuat yang tak boleh hilang, sirna.

Kesejukan hawa kota kembang, selalu menemani mengarungi kerasnya kehidupan. Mungkin orang akan berkata, ah dia mah enak. Ga terkekang dalam rutinitas harian andara yang menyesakkan. Siapa bilang???
Berjuang untuk medapatkan sesuap nasi tidaklah mudah. Kegagalan demi kegagalan seolah menjadi sahabat perjalanan. Tak mau lepas, pergi meninggalkan kehidupan.

Kota Bandung. Paris van Java. Hawa sejuk, kemacetan sepanjang jalan asia afrika, alun-alun. Potret kehidupan sehari-hari.

Sarapan pagi jam 10 dengan sebungkus nasi kuning, menjadi bahan bakar dalam mengarungi perjalanan. Minum air tidak hanya dikala dahaga. Tapi juga saat lapar datang menjenguk. Sekedar menambah perpanjangan usia. Perut lapar, adalah salah satu sahabat terdekat.

Aku harus berhasil. Harus. Buktikan bahwa mereka salah. Ketegaran hati, langkah tegap, cibiran bagai nyanyian merdu.

Saatnya makan senja. Semangkuk bubur kacang ijo dengan air yang lebih banyak. Menemani menutup hari.
Menatap langit-langit kamar. Esok harus lebih baik dari hari ini.

Harapan. Ya, sebuah harapan.Angan-angan dan impian. Masihkah kita boleh memilikinya? Ya, kita wajib memilikinya. Karena itu adalah kayu bakar kehidupan. Jangan pernah hilang. Atau tak akan ada bedanya dengan jasad yang terbujur kaku.

Buah hatiku,
Ayahanda bukanlah orang yang berhasil menggapai impian. Bukan, anak-anakku. Kegagalan selalu menyertai ayah. Seperti bayangan.
Tetapi anak-anakku, jadikanlah kegagalan adalah cambuk, bahan bakarmu menuju impian yang ingin kalian raih. Semakin banyak kegagalan yang kalian dapatkan, semakin dekat kalian dengan keberhasilan yang kalian impikan.

Nak,
Sebelum ajal mendekat, izinkanlah ayah untuk membacakan dongeng sebelum tidur untukmu. Agar engkau dapat bermimpi indah dalam tidurmu.
Bermimpilah, Nak. Karena mimpi akan menjadi tekad kuat untuk meraih bintang di langit.

Nak,
Perjalanan panjang ayah suatu saat nanti akan berakhir. Semoga diujung akhir nanti, engkau dapat melanjutkan tongkat estafet, menuju cita-cita dan impian indah yang selalu engkau dambakan.

Biarlah hinaan, cercaan dan makian ayah terima dengan lapang dada. Biarlah, nak. Asalkan ayah masih dapat melihat kalian tersenyum, gembira menikmati masa-masa indahmu.
Kerasnya kehidupan, adalah hal yang ayah nikmati dan syukuri.

Nak,
Dahulu ayah hidup sebatang kara. Kini, ayah bersyukur telah memilki kalian dan bunda, ratu keluarga kita.
Ayah tidak seorang diri lagi. Karena kalian telah ada. Kalian adalah kekuatan. The Great Power to Win The War……

Balikpapan, 23 April 2013.

Tidak ada komentar: