It’s almost midnight, but still hard to close my
eyes.
Masih susah memejamkan mata. Masih terngiang,
pertengkaran yang barusan terjadi. Perbedaan prinsip yang ternyata begitu besar
dampaknya. Hampir saja keutuhan satu keluarga terpecah, oleh ego dan emosi
Mengalah untuk menang. Yah, seperti itulah yang
dilakukan. Terserah mereka akan menganggap seperti apa. Tapi, lebih dahulu
meminta maaf, adalah kunci awal dari sebuah kemenangan besar dalam satu
peperangan. Bukan kemenangan kecil dalam satu pertempuran. Win the war, not the
battle.
Berawal dari ketidaksepakatan, justru mengarah
kepada perpecahan. Sungguh sangat disayangkan. Meski berjalan dalam satu rel,
tapi berbeda dalam posisi.
Satu pihak berada pada rel sebelah kiri, dan pihak
lain berada pada rel kanan. Meski satu kesatuan, tapi tetap tidak akan dapat
bertemu. Harus kita sadari, itulah yang ada. Itulah fakta.
Sangat disayangkan, bersaudara kandung kemudian
terpecah hanya karena ego dan emosi sesaat. Tapi, semua ini sesungguhnya
memiliki tujuan yang sama. Demi kebahagiaan yang kita cintai.
Banyak hal yang harus dipertimbangkan, difikirkan
dan direnungkan. Keputusan yang terbaik tidak diambil secara instant.
Pertimbangan matang dan bukan untuk kepentingan sesaat.
Perpecahan adalah hal yang tabu. Harus dihindari.
Tali silaturrahmi harus tetap terjaga. Meski sakit, akan manis pada akhirnya.
Biarlah mereka menilai kita buruk. Tapi kita tidak
boleh. Jangan sekali-sekali. Jika itu dilakukan, maka tidak ada bedanya. Justru
kita harus berbeda. Karena itu adalah kunci. Ya, kunci dari hasil akhir
gemilang yang akan kita raih.
Andara BPLK No.41. 23 tahun yang lalu, dengan
langkah penuh keyakinan mulai ditinggalkan. Mulai mengarungi kehidupan luar
yang sangat keras. Menempa diri untuk menjadi yang terbaik. Kegagalan hanyalah
keberhasilan yang tertunda. Namun keyakinan untuk memenangkan sebuah
pertempuran adalah tekad kuat yang tak boleh hilang, sirna.
Kesejukan hawa kota kembang, selalu menemani
mengarungi kerasnya kehidupan. Mungkin orang akan berkata, ah dia mah enak. Ga
terkekang dalam rutinitas harian andara yang menyesakkan. Siapa bilang???
Berjuang untuk medapatkan sesuap nasi tidaklah
mudah. Kegagalan demi kegagalan seolah menjadi sahabat perjalanan. Tak mau
lepas, pergi meninggalkan kehidupan.
Kota Bandung. Paris van Java. Hawa sejuk, kemacetan
sepanjang jalan asia afrika, alun-alun. Potret kehidupan sehari-hari.
Sarapan pagi jam 10 dengan sebungkus nasi kuning,
menjadi bahan bakar dalam mengarungi perjalanan. Minum air tidak hanya dikala
dahaga. Tapi juga saat lapar datang menjenguk. Sekedar menambah perpanjangan
usia. Perut lapar, adalah salah satu sahabat terdekat.
Aku harus berhasil. Harus. Buktikan bahwa mereka
salah. Ketegaran hati, langkah tegap, cibiran bagai nyanyian merdu.
Saatnya makan senja. Semangkuk bubur kacang ijo
dengan air yang lebih banyak. Menemani menutup hari.
Menatap langit-langit kamar. Esok harus lebih baik dari hari ini.
Menatap langit-langit kamar. Esok harus lebih baik dari hari ini.
Harapan. Ya, sebuah harapan.Angan-angan dan impian. Masihkah kita boleh memilikinya? Ya, kita wajib memilikinya. Karena itu adalah kayu bakar kehidupan. Jangan pernah hilang. Atau tak akan ada bedanya dengan jasad yang terbujur kaku.
Buah hatiku,
Ayahanda bukanlah orang yang berhasil menggapai
impian. Bukan, anak-anakku. Kegagalan selalu menyertai ayah. Seperti bayangan.
Tetapi anak-anakku, jadikanlah kegagalan adalah
cambuk, bahan bakarmu menuju impian yang ingin kalian raih. Semakin banyak
kegagalan yang kalian dapatkan, semakin dekat kalian dengan keberhasilan yang
kalian impikan.
Nak,
Sebelum ajal mendekat, izinkanlah ayah untuk
membacakan dongeng sebelum tidur untukmu. Agar engkau dapat bermimpi indah
dalam tidurmu.
Bermimpilah, Nak. Karena mimpi akan menjadi tekad
kuat untuk meraih bintang di langit.
Nak,
Perjalanan panjang ayah suatu saat nanti akan
berakhir. Semoga diujung akhir nanti, engkau dapat melanjutkan tongkat estafet,
menuju cita-cita dan impian indah yang selalu engkau dambakan.
Biarlah hinaan, cercaan dan makian ayah terima
dengan lapang dada. Biarlah, nak. Asalkan ayah masih dapat melihat kalian
tersenyum, gembira menikmati masa-masa indahmu.
Kerasnya kehidupan, adalah hal yang ayah nikmati
dan syukuri.
Nak,
Dahulu ayah hidup sebatang kara. Kini, ayah
bersyukur telah memilki kalian dan bunda, ratu keluarga kita.
Ayah tidak seorang diri lagi. Karena kalian telah ada. Kalian adalah kekuatan.
The Great Power to Win The War……
Balikpapan, 23 April 2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar